10 Contoh Tembung Entar Lan Kalimat : Dowload Contoh Dalam PDF

Tulisan ini membahas 10 contoh tembung entar lan kalimate secara lengkap, mulai dari definisi, contoh, fungsi, hingga variasi makna dalam konteks budaya Jawa. Pembahasan mendalam ini disusun agar pembaca memahami bagaimana idiom Jawa bekerja, baik secara literal maupun kiasan. Dalam artikel yang kaya akan konteks linguistik ini, tembung entar dipaparkan melalui penjelasan struktural, tabel, daftar penjelas, serta format tanya–jawab untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih sistematis.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya Jawa, tembung entar tidak bisa dipahami hanya dari arti katanya saja. Ia harus dipahami dari cara masyarakat Jawa menjaga kesopanan, etika komunikasi, hingga strategi menyampaikan kritik secara halus. Oleh sebab itu, artikel ini menyajikan uraian lengkap dan terstruktur berdasarkan pedoman linguistik, budaya, serta analisis pragmatik agar pembaca dapat langsung menerapkannya dalam komunikasi sehari-hari.


A. Tabel Download Contoh Tembung Entar

NoNama FileLink Download/Baca
1Contoh Tembung Entar PDF 1Download
2Contoh Tembung Entar PDF 2Download
3Contoh Tembung Entar PDF 3Download
4Contoh Tembung Entar PDF 4Download
5Contoh Tembung Entar PDF 5Download
6Contoh Tembung Entar PDF 6Download
7Contoh Tembung Entar PDF 7Download
8Contoh Tembung Entar PDF 8Download
9Contoh Tembung Entar PDF 9Download
10Contoh Tembung Entar PDF 10Download

B. FAQ Tentang Tembung Entar

❓ Apa itu Tembung Entar dalam Bahasa Jawa?

Tembung entar adalah frasa dalam Bahasa Jawa yang maknanya tidak sesuai lagi dengan arti literal kata-katanya. Kata entar berarti “pinjaman”, sehingga tembung entar bermakna “kata atau frasa yang maknanya dipinjam” dari arti asli komponen penyusunnya. Maknanya bersifat kiasan, bukan harfiah.
Contoh: dawa tangane secara literal berarti “panjang tangannya”, tetapi bermakna “pencuri”.


❓ Mengapa Tembung Entar dianggap penting dalam budaya Jawa?

✅ Karena tembung entar merupakan alat komunikasi yang halus sesuai etika unggah-ungguh. Masyarakat Jawa menghindari ucapan langsung yang menyakitkan (ora nglarani ati). Dengan tembung entar, kritik dapat disampaikan tanpa menyinggung.
Contoh: Mengatakan dawa tangane lebih sopan daripada menyebut seseorang maling.


❓ Apa fungsi pragmatis dari Tembung Entar?

✅ Berfungsi sebagai sindiran halus, kritik etis, serta cara menjaga harmoni sosial (rukun). Dalam tata komunikasi Jawa, idiom ini adalah penyangga linguistik (linguistic cushion) yang membantu penyampaian pesan sensitif.


❓ Apakah Tembung Entar termasuk bagian dari Basa Rinengga?

✅ Ya. Tembung entar adalah salah satu unsur Basa Rinengga, yaitu gaya bahasa indah yang dipakai dalam karya sastra, pidato, dan percakapan formal. Ia berbeda dari paribasan dan bebasan, karena tembung entar adalah frasa kiasan yang belum berbentuk kalimat utuh.


❓ Bagaimana struktur morfologis tembung entar?

✅ Umumnya terbentuk dari dua morfem bebas, misalnya:

  • dawa (panjang) + tangane (tangannya)
  • bening (jernih) + atine (hatinya)

Banyak menggunakan unsur somatik (anggota tubuh), karena tubuh dimaknai sebagai representasi fungsi moral atau emosi.


❓ Apa saja pola makna somatik dalam Tembung Entar?

✅ Berikut pola yang dominan:

  • Ati (Hati) → moral, kejujuran, emosi
    Contoh: bening atine
  • Usus → kesabaran
    Contoh: dawa ususe
  • Tangan/Bahu → tindakan, kerja
    Contoh: enteng baune
  • Lambe/Omong → integritas komunikasi
    Contoh: gedhe omonge

Pemetaan ini membantu memahami idiom secara budaya.


❓ Bagaimana menentukan 10 contoh tembung entar yang paling relevan?

✅ Dipilih berdasarkan:

  1. Frekuensi penggunaan
  2. Signifikansi budaya
  3. Keseimbangan sifat positif–negatif
  4. Relevansi dalam komunikasi modern

❓ Bisakah diberikan daftar 10 Tembung Entar beserta makna literal dan kiasannya?

✅ Berikut ringkasannya:

  1. Dawa tangane → “panjang tangan” → pencuri
  2. Gedhe omonge → “besar omong” → sombong
  3. Lambe tipis → “bibir tipis” → suka gosip
  4. Bau tengen → “lengan kanan” → orang kepercayaan
  5. Bening atine → “jernih hati” → baik hati
  6. Cancut taliwanda → “ikat ikat pinggang” → siap bekerja
  7. Cilik atine → “kecil hati” → penakut
  8. Dawa ususe → “panjang usus” → penyabar
  9. Enteng baune → “ringan bahu” → suka membantu
  10. Empuk rembuge → “lunak omongannya” → enak diajak bicara

❓ Bisakah diberikan contoh kalimat lengkap (ukara) untuk setiap Tembung Entar?

✅ Berikut contoh kalimat lengkap (Jawa + Indonesia):

  1. Dawa tangane
    – Jarene kanca-kancaku, dheweke kondhang dawa tangane.
    – (Dia terkenal suka mencuri.)
  2. Gedhe omonge
    – Wong kuwi asring mung gedhe omonge.
    – (Orang itu hanya omong besar.)
  3. Lambe tipis
    – Aja crita marang dheweke, dheweke lambe tipis.
    – (Jangan bercerita kepadanya, dia suka gosip.)
  4. Bau tengen
    – Pak Hadi wis dadi bau tengen-e Pak Boss.
    – (Pak Hadi adalah orang kepercayaan bos.)
  5. Bening atine
    – Ibu Lurah misuwur bening atine.
    – (Ibu Lurah dikenal berhati baik.)
  6. Cancut taliwanda
    – Warga wis cancut taliwanda nandur pari.
    – (Warga siap bekerja menanam padi.)
  7. Cilik atine
    – Aja cilik atine sadurunge nyoba.
    – (Jangan takut sebelum mencoba.)
  8. Dawa ususe
    – Mbah Kakung pancen dawa ususe.
    – (Kakek sangat sabar.)
  9. Enteng baune
    – Dheweke tansah enteng baune yen ana gawe.
    – (Dia selalu membantu.)
  10. Empuk rembuge
    – Pak Kepala Sekolah iku empuk rembuge.
    – (Beliau enak diajak bicara.)

❓ Apa tantangan terbesar belajar Tembung Entar?

✅ Tantangan utamanya adalah kesalahan memahami arti literal. Banyak pemelajar mengira idiom tersebut makna sebenarnya, misal dawa ususe dianggap kondisi medis. Oleh sebab itu pembelajaran harus berbasis konteks.


❓ Bagaimana strategi terbaik mengajarkan Tembung Entar?

✅ Pengajaran harus berbasis tiga komponen:

  1. Arti Harafiah – untuk memahami struktur pembentukannya
  2. Makna Kiasan – untuk menangkap nilai budaya
  3. Fungsi Pragmatis – penggunaan sesuai unggah-ungguh

Pendekatan ini membuat siswa memahami idiom secara menyeluruh.


Penutup

Pemahaman terhadap 10 contoh tembung entar lan kalimate sangat penting untuk menguasai bahasa Jawa secara utuh. Idiom ini bukan hanya sekadar hiasan bahasa, tetapi mencerminkan kebijaksanaan Jawa dalam menjaga harmoni sosial, memberi kritik, menggambarkan moralitas, serta mengatur sopan santun komunikasi. Melalui contoh lengkap, tabel, daftar penjelasan, dan format tanya–jawab, pembaca dapat memahami dan menerapkan tembung entar dalam berbagai situasi, baik formal maupun informal. Dengan memahami tembung entar, seseorang juga memahami filosofi halus masyarakat Jawa yang menjunjung etika, kebaikan, dan keselarasan.

Related posts